Pengendalian Kimiawi (Chemistry Control)

Pengendalian Kimiawi (Chemistry Control) – Pengendalian kimiawi adalah pengendalian OPT dengan menggunakan pestisida.  Untung (2003 : 198) membagi pestisida berdasarkan cara masuknya ke dalam tubuh serangga dan berdasarkan sifat kimianya.

Pestisida berdasarkan cara masuk ke tubuh serangga yaitu ; 1) racun perut, insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui saluran pencernaan makanan (perut).  Serangga mati karena termakan tanaman yang sudah mengandung insektisida, biasanya insektisida sistemik ; 2) racun kontak, insektisida masuk ke tubuh serangga melalui dinding tubuh apabila serangga mengadakan kontak dengan insektisida yang ada pada permukaan tanaman ; 3) fumigan, insektisida yang mudah menguap menjadi gas dan masuk ke dalam tubuh serangga melalui sistem pernafasan serangga atau sistem trachea, kemudian diedarkan ke seluruh jaringan tubuh serangga.  Fumigan biasanya digunakan untuk mengendalikan OPT yang sering menyerang produk simpanan.

Pestisida berdasarkan sifat kimianya yaitu insektisida anorganik tidak mengandung unsur karbon merupakan insektisida lama yang digunakan sebelum tahun 1945 dan insektisida organik yang mengandung unsur karbon merupakan insektisida modern setelah ditemukannya DDT.  Insektisida organik terbagi atas insektisida organik alami yaitu terbuat dari tanaman (insektisida nabati) dan insektisida organik sintetik yaitu merupakan hasil buatan pabrik melalui proses sintetis kimiawi.

Pestisida Kimia (insektisida organik sintetik)

Pengendalian dengan pestisida kimia dilakukan dengan menggunakan bahan kimia sintetik seperti insektisida (membunuh serangga), fungisida (membunuh jamur), herbisida (membunuh gulma/rumput liar), akarisida (membunuh tungau), nematisida (membunuh nematoda), rodentisida (membunuh mamalia pengerat) (Wigenasantana, 2001 : 192).

Pestisida dalam sejarah umat manusia telah memberikan banyak jasa baik dalam bidang pertanian, kesehatan dan pemukiman.  Pada bidang pertanian pestisida kimia telah berhasil mengendalikan dan menurunkan populasi OPT dengan cepat sehingga petani sangat tergantung pada pestisida.   Di pemukiman adalah untuk mengendalikan nyamuk penyebab penyakit demam berdarah dan malaria.  Cara pengendalian yaitu dengan cara pengasapan di setiap rumah atau tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat hidup nyamuk.

Adanya penemuan insektisida sintetik organik pertama yaitu DDT pada tahun 1940 telah memacu revolusi pestisida, hal ini mendorong para peneliti untuk mencari pestisida baru yang lebih ampuh.  Banyaknya penemuan jenis pestisida baru yang berhasil membunuh OPT telah menyebabkan banyaknya permintaan pestisida, sehingga bisnis  dan industri pestisida muncul dimana-mana (Untung, 2003 : 195; Wigenasantana, 2001 : 193).

Di Indonesia adanya program nasional BIMAS telah memacu petani menggunakan pestisida untuk mengendalikan OPT karena keunggulannya yaitu praktis, ampuh membunuh, mudah diaplikasikan.  Tetapi tanpa disadari akibat pemaparan pestisida secara terus menerus dengan cara tidak bijaksana telah berakibat kerusakan lingkungan biotik dan abiotik, munculnya resistensihama, resurjensihama, peletusanhamakedua, selain itu adanya pencemaran perairan oleh residu pestisida.

Pestisida kimia yang dipasarkan umumnya sudah dalam bentuk formulasi yaitu campuran  bahan aktif  teknis, sinergis (bahan penguat yang tidak bersifat racun tetapi apabila dicampurkan ke bahan aktif akan menambah toksisitas insektisida) dan bahan pembantu/ajuvan (berfungsi meningkatkan daya larut/solvent, sebagai pembawa/diluent dan penyelimut, menambah daya lekat/stiker, meningkatkan daya sebar dan pembasahan pada permukaan/ surfaktan, dan memberikan bau harum/deodoran) (Untung, 2003 : 212).

Formulasi Insektisida

Untung, (2003 : 213) membagi formulasi insektisida sebagai berikut:

  1. Emulsifiable Concentrates (EC), yaitu formulasi yang paling banyak diproduksi, terdiri atas campuran bahan aktif, perantara/emulsi (emulsifier), suatu emulsi minyak-dalam-air terbentuk bila formulasi ini dicampur dengan air akan terbentuk cairan seperti susu.  Emulsifier memungkinkan melarutkan bahan kimia yang sukar larut dalam air, mengurangi tekanan permukaan dari semprotan sehingga dapat lebih menyebar dan membasahi permukaan yang disemprot sehingga memungkinkan terjadinya kontak yang lebih baik dengan kutikula serangga.
  2. Wettable Powders (WP), yaitu dalam bentuk tepung, kering dan agak pekat ditujukan agar dapat diencerkan dan larut dalam air untuk disemprotkan.  Dibandingkan dengan EC, WP mempunyai toksisitas pada tanaman yang rendah tetapi kurang baik untuk alat penyemprot karena menyebabkan macet pada nozzle sehingga perlu pengadukan.
  3. Flowable Powder (F), formulasi dalam bentuk padat atau semi padat dan dicampur dengan formulasi EC kemudian digiling secara basah dengan bahan pembawa/diluent dan air sehingga diperoleh bahan teknis yang tergiling halus dan basah seperti puding.  Formulasi ini dicampur dengan air untuk dapat disemprotkan, dan harus selalu diaduk agar tidak terjadi pengendapan.
  4. Soluble Powder (SP), formulasi berbentuk bubuk kering ditambah dengan bahan inert (membantu pelekatan) dan bahan pembantu  untuk menyebarkan pada permukaan tanaman.  Formulasi ini dapat larut dalam air dan mengandung 75-95% bahan aktif. Formulasi ini dapat diaplikasikan sebagai racun kontak maupun racun perut, adanya inert  maka dapat diaplikasikan pada musim penghujan.
  5. Solutions (S), formulasi ini jarang digunakan untuk tanaman karena fitotoksitas yang tinggi.  Umumnya digunakan utnuk mengendalikan serangga yang menyerang ternak, jentik-jentik nyamuk yang ada pada permukan air.
  6.  Dust (D), formulasi ini dalam bentuk debu, tidak efektif bila digunakan dalam kondisi berangin karena sedikit yang mengenai sasaran dan bayak yang tertiup angin, berbahaya bagi imago parasitoid ordo hymenoptera.
  7. Granules (G), yaitu dalam bentuk butiran dalam aplikasinya cukup dibenamkan dalam tanah di sekitar pangkal akar tanaman atau disebarkan di sekitar tanaman, formulasi ini efektif untuk mengendalikanhama di tanah.
  8. Aerosol (A), formulasi ini dibuat dengan cara insektisida dilarutkan dalam zat pelarut berupa minyak yang menguap.  Larutan kemudian diberi tekanan udara dalam kaleng dengan gas propelan seperti karbondioksida atau fluorokarbon, apabila disemprotkan larutan akan menjadi partikel-partikel yang sangat kecil dan secara cepat menguap meninggalkan droplet-droiplet mikroskopik di udara.  Formulasi ini biasanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, di pekarangan atau di rumah kaca.

 

 

Konsentrasi dan Dosis Pestisida

            Natawigena (1989 : 24) telah menjelaskan tentang pengertian konsentrasi dan dosis sebagai berikut.

Konsentrasi pestisida terbagi atas 3 (tiga) yaitu : 1) konsentrasi formulasi, yaitu banyaknya pestisida dihitung dalam cc atau gram pestisida per liter air yang dicampurkan.  Contoh konsentrasi formulasi fungisida Antracol 70 WP adalah 2 gram, artinya dalam 1 liter air kita campur dengan 2 gram Antracol 70 WP ; 2) konsentrasi bahan aktif, yaitu persentase bahan aktif pestisida yang terdapat  di dalam larutan jadi (sudah dicampur air); 3) konsentrasi larutan, yaitu persentase kandungan pestisida yang terdapat dalam larutan jadi.

            Beberapa pengertian dosis yaitu : 1) jumlah pestisida (cc,  liter atau gram, kg) yang digunakan untuk mengendalikan OPT persatun luas tertentu atau per pohon yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih.  Contoh kebutuhan dosis Diazinon 60 EC untuk mengendalikan OPT pada lahan sawah seluas 1 ha adalah 1 liter untuk 1 kali aplikasi, bila 3 kali aplikasi maka dosis dibutuhkan adalah 3 liter ; 2)  jumlah pestisida yang telah dicampur atau diencerkan terlebih dahulu dengan air dan digunakan untuk menyemprot pertanaman yang diserang OPT dengan luas tertentu dalam satu kali aplikasi ; 3) jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan per satuan luas.

Untuk dosis perlu dilihat label yang tertera pada kemasan pestisida, perhatikan petunjuk penggunaannya sehingga pada waktu aplikasi tidak terjadi kesalahan dan usaha pengendalian tidak sia-sia.

Efek Toksisitas Pestisida Kimia Terhadap Manusia

Untung (2003 : 218) menyatakan bahwa efek toksit pestisida kimia terhadap manusia adalah dilihat dari gejala keracunan yaitu: 1) keracunan akut (kesakitan dan kematian akibat terkena dosis tunggal insektisida), terjadinya keracunan karena kecorobohan pada waktu aplikasi insektisida. Obat antidote untuk manusia yang terkena keracunan akut adalah atropine. 2) keracunan khronik (penderita terkena rcun dalam jangka waktu yang lama dengan dosis yang sangat rendah), gejala keracunan baru terlihat selang beberapa hari, bulan atau tahun setelah penderita terkena racun.[mm]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s